10/27/16

HADIAH HARI GURU

Tags


Hymne Guru
Terpujilah Wahai Engkau/ Ibu Bapa Guru / Namamu akan selalu hidup / Dalam sanubariku//
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/ Bagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu//
Engkau Sebagai pelita dalam kegelapan/ Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/ Engkau patriot pahlawan bangsa/ Tanpa tanda jasa//
Perayaan Hari Guru merupakan suatu momen yang sangat mengharukan bagi guru di Indonesia. Tepat tanggal 25 November 2015 nanti, guru akan merayakan hari jadinya yang ke-70. Pada perayaan seperti ini biasanya warga sekolah terkhusus OSIS menyelenggarakan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih atas dedikasi guru di sekolah tersebut. Perayaan ini juga meleburkan hubungan guru dan peserta didik menjadi lebih akrab. Ada rasa haru yang menyelimuti tatkala lagu Hyme Guru dinyanyikan oleh siswa. Tak jarang juga, siswa memberikan kado sebagai rasa sayangnya kepada guru. Hari Guru ini bagaikan kemerdekaan bagi guru.

Rangkaian kegiatan dilakukan dan pada puncaknya pelaksanaan Upacara dalam mempenringati Hari Guru Nasional. Pada upacara biasanya akan dilakukan penyematan bunga dan diiringi lagu Hyme Guru. Di saat inilah, guru merasakan bahagia yang tidak ternilai harganya.

Menjelang perayaan Hari Guru Nasional ke-70 pada tanggal 25 Nopember nanti, saya dikejutkan dengan sebuah "hadiah" menarik dari salah seorang murid ditempat saya mengajar. Bukan sebuah benda mahal, berkisar harga Rp. 500, namun sangat berpengaruh besar dalam pikiran dalam beberapa minggu ini.

Secara tidak sengaja saya menemukan "hadiah" tersebut dalam komputer saya, tampilannya seperti ini.

Ketika pertama kali menerima "kado" ini, serasa seluruh tubuh merasakan aliran darah yang mengalir kencang. Ada rasa emosi yang mencuak sampai di kepala (terkhusus dengan kalimat, "kau pikir kami dah bangga kalii punya (W.L.K.L.S - Walikelas) kayak kau hak.!"). Karena dalam pikiran bahwa saya telah memberikan segala potensi untuk keberhasilan siswa. Berulang kali di baca semakin itu juga rasa amarah ini semakin menggerogoti pikiran. Namun begitu, semakin memuncaknya rasa amarah semakin sering pula untuk membacanya.

Sampai akhir berhenti di sepenggal kalimat, "kau sepelekan kami". Kata-kata ini yang seakan membalikkan segala amarah. Sembari sambil menenangkan pikiran, berulang kali juga mencerna kalimat ini (walau kalimat ini sangat menekankan amarah). Dalam upaya ini, pikiran terus berulang kali merekonstruksi semua kejadian ketika dalam proses belajar mengajar di kelas. Berusaha mengingat, kata-kata apa yang telah terlontar ketika belajar di kelas.

Hal ini sering terjadi dalam PBM, mungkin juga pernah dialami oleh banyak orang. Guru sering melupakan bahwa siswa merupakan (1) pribadi yang unik, mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing, (2) siswa bukan orang dewasa, jalan pikiran mereka tidak selalu sama dengan jalan pikiran orang dewasa, (3) dunia siswa adalah dunia bermain, (4) usia siswa merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia, dan (5) dunia siswa merupakan dunia aktif belajar.

Kelima ciri ini sering diabaikan ketika proses belajar mengajar. Apalagi ketika siswa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan guru. Guru sering memandang cara pikir siswa sama dengan cara pikir orang dewasa. Contoh yang menunjukkan fakta ini, guru sering berucap, "mau jadi apa kamu kelak kalau kamu seperti ini?" Kalimat ini tentunya mengadung makna, bahwa kita beranggapan, bahwa siswa (apalagi siswa yang masih duduk di tingkat dasar) sudah kuatir dengan masa depannya, layaknya pikiran orang dewasa.
Belum lagi, guru sering memaksakan cara belajar yang diinginkan oleh guru, tanpa peduli dengan dunia siswa yang dialaminya sesuai dengan umurnya. "Bodoh! Kamu tahunya hanya bermain" rangkaian kata yang sering diperdengarkan kepada siswa. Memang tindakan ini didasari keinginan guru untuk kebaikan siswa dalam mengubah perilaku yang akan berguna kelak dalam kehidupannya. Namun, guru masih acap kali untuk berbuat kesalahan yang sama, mengabaikan hal yang paling dibutuhkan siswa.

Sudah sebaiknya, menjelang Hari Guru yang ke-70 untuk beritropeksi diri atas pengabdiannya selama ini. Apakah sudah sepatutnya kita disebut guru, digugu dan ditiru? Sudah benarkah kita menjalankan tugas mulia ini? Ketika lagu hymne guru dinyanyikan, biarlah ini benar-benar menyala dalam pikiran, sehingga kelak guru-guru di Indonesia semakin dewasa dalam mengemban tugas tanpa jasa ini.

Sampai tulisan ini di munculkan, pikiran saya masih dalam kebingunngan yang mendalam. Saya merasa sudah melakukan hal-hal terbaik yang saya punya untuk pembelajaran siswa. Saya sering berpikir, balasan yang tidak sesuai dengan apa yang syaa telah berikan kepada siswa. Peristiwa ini seolah menegur saya untuk tidak menghayal terlalu tinggi. Mengingatkan diri untuk tetap memijakkan kaki di tanah.

Memandang dari tingkat mata yang sama mungkin akan memberikan hasil yang berbeda. Mengubah persepsi bukan perihnya kata-kata yang terangkai, namun lihatlah bahwa kita belum sempurna. Pada akhirnya, "hadiah" ini menjadi hadiah yang sangat berharga saat perayaan hari guru yang saya alami. "Hadiah" yang mengingatkan untuk berbuat yang lebih baik lagi untuk pengabdian ini. Mungkin ada pembentukan karakter yang berbeda jika pemberian hadiah berupa penghormatan semata.

Akhir tulisan saya, saya mengajak teman-teman guru untuk lebih lagi dalam mengabdikan diri dalam pekerjaan mulia ini. Kelak, biarkan Yang Maha Kuasa mempertimbangkan apa yang telah kita lakukan dalam pelayanan ini.

Selamat Hari Guru Nasional Ke-70.

Tulisan ini telah dipublikasikan di kompasiana.com pada 14 November 2015


EmoticonEmoticon