10/27/16

GURU MENGINSPIRASI


Tulisan ini sudah sangat lama untuk dibuat, namun akhirnya diwujudkan karena didorong karena suatu malam ketika teman saya perbaharui status di media sosial dengan menampilkan film singkat tentang seorang guru di Thailand sambil menuliskan status, "Pda knyataannyaa msih ada kah Guru yg sperti ini?? Byaran mahaal jg gpp deh klo gurunyaa bgini maah..."

Sesaat setelah melihat cuplikan tersebut, saya berkomentar, "Masih.. saya ada kenal satu guru yg luar biasa positif. Saat mengajar, menangani masalah siswa, dan cara pandang terhadap guru lain. Pokoknya guru terbaik yg pernah saya jumpai."

Tulisan ini adalah sebuah ungkapan terima kasih karena telah menginspirasi saya untuk menjadi lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui jalur pendidikan.

Perkenalkan, saya adalah seorang guru di kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, tepatnya di SMP Negeri 9 Pematangsiantar. Saya merupakan salah satu pengajar muda di sekolah ini, bahkan usia termuda sebagai guru di sekolah tersebut. Sebagai guru muda maka yang menjadi panutan dalam proses belajar mengajar di sekolah tentunya guru yang sudah lama mengabdikan diri di sekolah tersebut. Ada sekitar 50 orang guru yang menjadi senior yang siap dijadikan panutan.

Seiring dengan waktu, para senior cukup membantu dalam proses pengembangan diri secara pedagogik, sosial, maupun kompetensi materi pembelajaran. Pengembangan kompetensi ini membuat saya menemukan sosok yang sangat baik untuk dijadikan sebagai panutan untuk mengembangkan diri kearah yang positif.

Sosok guru ini berbeda jurusan dengan saya. Awal sekali ketika baru mengabdi di sekolah ini, saya melihat beliau begitu ramah dan hangat untuk diajak diskusi. "Sepertinya dia tidak pernah marah atau menunjukkan rasa kebencian kepada siapapun" pikir saya dalam hati. Ini yang mebuat saya begitu mudah bergaul dengan beliau. Ada rasa nyaman bagi guru-guru muda (terkadang di sekolahan saya merasakan perbedaan kasta guru muda dengan guru senior berlaku).

Komunikasinya terhadap peserta didik menurut saya dikategorikan sangat baik. Banyak siswa yang menaruh hormat terhadap beliau dan tidak ragu untuk menegur sapa tanpa mengurangi rasa hormat terhadap beliau.

Setiap pembelajaran yang dilakukannya selalu mendapatkan respon positif dari siswa. Hal ini dapat saya simpulkan dari apa yang saya amati. Setiap pembelajarannya mendatangkan senyum bagi siswa. Memang pelajaran yang dibawakan guru ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan siswa, Seni Budaya - Seni Rupa.
Ada banyak media yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang dilakukan bersama siswa. Bahkan tembok sekolah mampu diubah menjadi kanvas untuk menuangkan kreativitas siswa (ini luar biasa menurut saya).

Bahkan dinding ditiap kelas juga di jadikan media pembelajaran langsung ketika melaksanakan pembelajaran. Setidaknya ini membawa siswa termotivasi untuk mengembangkan talenta yang dia punya menjadi hal yang positif dan indah.

Di lain waktu, beliau dan saya menangani siswa yang sedang mendapatkan masalah (kebetulan saya merupakan pembantu kepala sekolah bagian kesiswaan - terkadang saya merasa belum pantas duduk disana). Kala itu beliau tidak ingin membuat si anak merasa tertekan dengan apa yang sedang di alaminya. Ini salah satu yang membuat saya sangat terkesima dengan cara mendidik siswa. Ada banyak guru ketika melakukan pembinaan terhadap siswa yang bermasalah, siswa sering mengalami tekanan dan merasa terpidana. Namun beliau menunjukkan sifat guru asli yang sangat jarang ditemukan. Sepanjang berbicara dengan orang tua yang bersangkutan, saya hanya mampu memandang guru ini dan sambil berdecak kagum dalam pikiran. Luar biasa! Saya merasa malu dengan diri karena apa yang dilakukan beliau benar-benar diluar yang saya kiri. Kala itu beliau berkata, "kami guru-gurumu sangat sayang kepadamu. Kami berusaha masalah ini tidak diketahui guru-guru lain juga kepada teman-temanmu agar kamu tidak mendapat cela dari mereka. Tapi kami mau kamu berubah kearah yang lebih baik". Sekali lagi dia mengajarkan kepada saya untuk memperlakukan siswa semestinya.

Di lain kesempatan, ketika saya mengarahkan siswa (tepatnya OSIS) untuk berkreasi merayakan Hari Guru Nasional di sekolah, saya kembali mendapatkan inspirasi yang sangat menguatkan. Kala itu, banyak guru yang merasa kecewa karena ada sesuatu yang diangan-angankan siswa untuk memberikan souvenir kepada guru sebagai tanda kenangan namun tidak terwujud dikarenakan pengeluaran dalam perlombaan-perlombaan yang mereka lakukan dalam perayaan tersebut. Namun beliau memiliki cara pandang lain ditengah-tengah kesinisan guru menekan saya ketika keinginan pemberian souvenir tidak tercapai. Beliau datang menghampiri saya seraya berkata, "Terima kasih pak, perayaan hari guru ini meriah dan saya merasa dihargai sebagai guru". Memang kebiasaan yang terjadi di sekolah setiap perayaan Hari Guru hanya dilakukan dengan upacara dan setelah itu bubar dari sekolah. Kalimat beliau sangat menyentuh, saya merasakan sosok orangtua yang sedang memeluk anaknya yang sedang tersakiti. sekali lagi, Luar Biasa!

Dari sekian banyak kekaguman yang dia berikan kepada saya, ada satu hal yang sangat saya ingat. Setelah sekian lama senam pagi vakum dilaksanakan disekolah, selaku PKS kesiswaan saya berniat untuk memunculkan kegiatan yang sangat memberikan pengruh positif bagi siswa ini. Setelah mendapat ijin dari pimpinan sekolah, maka senam ini segera akan dilaksanakan. Namun, pada suatu pagi ketika hendak melakukan senam, seorang guru mengatakan untuk menunda pelaksanaan senam dikarenakan tebalnya asap kala itu (walau asapnya tidak setebal sumber asap). Guru ini bertanya kenapa tidak jadi senam, dan saya memberikan penjelasan seperti yang diperintahkan oleh guru lain untuk menunda senam. Beliau kembali memberikan pengajaran kepribadian kepada diri saya, "jangan tunda sesuatu yang baik", tuturnya. Ini yang sangat menginspirasi. Sering sekali kita melupakan hal sederhana ketika memberikan pelayanan yang terbaik. Ketika ada kesempatan lakukanlah selalu yang baik. Sekali lagi, Luar Biasa!

Saya cukup beruntung bisa bertemu dengan beliau. Ternyata masih ada guru yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk pendidikan. Saya juga yakin masih banyak guru-guru inspirasi lain yang ada menyebar di seluruh pelosok Indonesia yang siap memberikan dedikasinya untuk kemajuan bangsa. Untuk membuat manusia Indonesia menjadi manusia sesungguhnya.

Terima kasih buat inspirasi ini. Semoga ini memberikan motivasi bagi guru-guru muda untuk berjuang dalam memberikan yang terbaik bagi siswa. Teruslah menebarkan inspirasi. Kami butuh semua yang guru tunjukkan dan biarkan kami memetik semua inspirasi itu untuk menjadi panutan kami dalam mengembang pengabdian ini.

#Tulisan ini saya dedikasikan kepada Beliau "Guru Terbaik" yang pernah saya jumpai. Salam Revolusi Mental

Tulisan ini telah dipublikasikan di kompasiana.com pada 31 Oktober 2015

10/26/16

AMBIL RESIKO, JANGAN MUNDUR


Suatu ketika semasa remaja, tepatnya di usia 15 tahun. Kala itu saya duduk di bangku sekolah tingkat SMA kelas 1 (kala itu SMA masih menggunakan tingkat kelas 1, 2 dan 3, belum menggunakan kelas X, XI, dan XII). Kakak saya tertua duduk dibangku kelas 3 dan abang dikelas 2 SMA. Tingkat sekolah kami cukup rapat, walau jarak usia saya dengan abang saya berselisih 3 tahun. Ini disebabkan, ketika masuk SD saya masih berusia 5 tahun.

Berhubung kakak saya telah kelas 3, tiba untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada masa itu, untuk menuju PTN melalui ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Saat itu, seingat saya, kakak berkonsultasi untuk menentukan jurusan yang akan dipilih ketika mendaftar UMPTN. Pada sebuah meja makan yang kecil, diskusi itu dilakukan, saya juga turut disana karena saya berpikir akan ada kaitannya dengan saya kelak.
Sesaat diskusi dimulai, hal yang paling saya ingat, ayah berpesan untuk tidak memilih jurusan kedokteran dengan alasan yang masih saya ingat sampai sekarang, "kuliah di kodekteran itu mahal dan kita tidak punya uang untuk mewujudkan itu".
Sebuah alasan yang dibuat dengan kenyataan yang dialami keluarga kala itu. Orang tua saya keduanya bekerja sebagai PNS sebagai staf tata usaha di SMP dengan gaji yang harus dibagi untuk empat orang anak dan melunasi hutang akibat membangun rumah untuk dihuni.

Pengalaman merupakan guru yang baik. Pernyataan ini merupakan ungkapan yang benar-benar mengajarkan pada setiap orang untuk dapat lebih baik. Ada pengalaman pahit ketika harus memendam cita-cita akibat sebuah kesalahan yang seharusnya bisa diatasi.

Peran Pemerintah dalam Pendidikan
Pendidikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003, pemerintah menjamin pendidikan untuk seluruh rakyatnya sebagai wujud dari tujuan pendidikan nasional. Namun secara kenyataan, Pendidikan tidak terlepas dari biaya. Memang pemerintah setidaknya sudah memberikan peran yang signifikan dalam dunia pendidikan. Melalui layanan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari tingkat SD - SMA. Melalui program ini, masyarakat boleh menikmati pendidikan hingga tingkat SMA secara gratis.

Untuk pendidikan tinggi, pemerintah melalui program bidikmisi memberikan bantuan bagi masyarakat yang ingin menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Masyarakat yang berhak untuk program ini adalah masyarakat yang masuk dalam kategori tidak mampu. Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan masyarakat dengan kemampuan menengah? Apakah mereka tidak berhak atas bantuan pendidikan ini.

Program Mandiri
Secara nyata, mau tidak mau, biaya pendidikan terus meningkat. Peningkatan ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat yang ingin menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Serta secara tidak langsung, memberikan sumbangsih buruk bagi bangsa. 

Berdasarkan kenyataannya, pendidikan merupakan bagian dari hak dan tanggun jawab secara pribadi dari masing-masing individu. Hakikat inilah yang menjadi acuan bahwa untuk memperoleh pendidikan yang layak merupakan tanggung jawab diri. Oleh karena itu, sudah semestinya secara mandiri untuk mengusahakan pendidikan atas diri sendiri. Bukan berarti mengesampingkan peran pemerintah. Atau dengan kata lain, pemerintah hanya sebagai katalis untuk keberhasilan pendidikan seseorang. 

Sudah semestinya, setiap orang memikirkan rencana pendidikan serta merelesaikan rencana tersebut sampai menjadi sebuah kenyataan. Inilah yang disebut sebagai Program Mandiri.

Pembangunan Masa Depan 
Masa depan merupakan sesuatu yang pasti datang. Masa depan tidak dapat ditunda atau dihentikan. Namun, masa depan dapat ditentukan dari apa yang di mulai dari saat ini. Jadi, masa depan merupakan hasil dari apa yang dilakukan saat ini. Masa depan bukan sesuatu yang ditakutkan melainkan karya yang akan dinikmati.

Tanpa terkecuali, pendidikan masa depan dapat ditentukan mulai sekarang. Ketika seorang manusia terlahir pembangunan masa depan sudah harus dimulai. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat Indonesia adalah dengan membiarkan masa depan menjadi rahasia yang diterima dengan pasrah. Perjalanan hidup dibiarkan bak air mengalir dengan mengandalkan alam yang akan memberikan hasil bumi yang baik. Namun ketika hasil yang diapat tidak sesuai dengan harapan, semua mempersalahkan alam.

Untuk pembangunan masa depan, hal terbaik yang harus diperhatikan adalah pendidikan anak. Jangan biarkan anak takut untuk bermimpi tinggi. Sebagai orang yang bertanggu jawab dalam membangun masa depan anak, orang tua berkewajiban dalam memenuhi harapan dan mimpi anak. Namun, banyak orang tua yang gagal dalam memberikan kebebasan bagi anak untuk membangun masa depannya. Secara tidak langsung, orang tua berperan atas masa depan anak.

Kabar Baik untuk Masa Depan
Kabar baik yang dapat dijadikan suatu modal berharga, bahwa masa depan dapat dicicil. Biaya yang mahal tidak lagi menjadi momok yang menakutkan untuk dihadapi. Namun sesuatu yang harus disiasati dengan gaya hidup yang positif. Ya, pendidikan masa depan dapat dibayar mulai sekarang. Asuransi pendidikan menjadi kabar baik untuk masa depan. Kabar baik ini memberikan keleluasaan bagi orang tua dalam mewujudkan mimpi anak.

Mungkin banyak orang tua yang telah mendengar akan kabar baik ini. Namun tidak sedikit dari mereka yang merasa ini hanyalah sebagai bentuk produk marketing yang menguntungkan satu pihak. Nah, ini bukan sekedar untung-untungan. Fenomena masa depan yang tidak tertolak seharusnya mengubah gaya hidup dan cara pandang terhadap asuransi pendidikan. Orang tua yang baik adalah orang tua yang membuka jalan selebar-lebarnya untuk masa depan yang cerah bagi anaknya. Asuransi pendidikan bukan sekedar trend gaya hidup masyarakat modern tetapi lebih mendasar sebagai cara terbaik untuk masa depan yang baik.

Asuransi pendidikan meringankan beban untuk mewujudkan masa depan yang baik. Bukan sekedar meringankan beban tetapi jugam memudahkan cara untuk meraih mimpi yang dibangun sejak dini.

Mulailah dari sekarang. Jangan takut dan ragu untuk memujudkan semua bentuk mimpi yang kita punya atau yang dimiliki anak. Semua ada dalam genggaman untuk mewujudkannya. Mulailah untuk mewujudkannya sembari berserah kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan dalam mewujudkan mimpi tersebut.
Apapun yang dapat anda lakukan atau anda mimpikan untuk melakukakannya "mulailah" sebab keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan dan keajaiban di dalamNya. (Johann Wolfgang von Goethe).

Tulisan ini telah dipublikasi di kompasiana.com pada 29 Oktober 2015 

PENGARUH UU PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP PENDIDIKAN


Anak merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia dalam menjaga kelestarian dan keberadabannya. Anak juga merupakan suatu aset dalam mempertahankan, dan memajukan suatu bangsa. Untuk itu sudah sepatutnya pemerintah menjaga, melindungi, dan menjamin hidup anak-anak Indonesia. Untuk itu upaya pemerintah mengeluarkan Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) yang diluncurkan pada tahun 2012.

Titik berat atau point utama dalam UUPA adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Secara teoritik, anak-anak Indonesia dijamin dalam mejalani hidupnya.

Sesuai dengan UU No. 35 Tahun 2014, Pasal 15, Setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:
  1. penyalahgunaan dalam kegiatan politik;
  2. pelibatan dalam sengketa bersenjata;
  3. pelibatan dalam kerusuhan sosial;
  4. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur Kekerasan;
  5. pelibatan dalam peperangan; dan
  6. kejahatan seksual.
Dalam dunia pendidikan, UU ini memberikan suatu kenyamanan bagi masyarakat dalam menjalani peran sebagai orang tua. Demikian juga halnya, ketika seorang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah, ada rasa kenyamanan dalam memberangkatkan anak ke sekolah. UU ini menyelaraskan tujuan orang tua dan guru dalam membina anak menjadi manusia yang seutuhnya. Berdasarkan UU ini siswa dijauhkan dari tindakan kekerasan fisik yang dapat mengakibatkan cidera, cacat, atau bahkan kematian selama mengikuti pembelajaran.

UU berperan positif dalam memberikan jaminan hukum kepada anak atau siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Seorang siswa akan mendapatkan kepastian untuk menerima pembelajaran dengan baik dari guru yang mengajar di sekolahnya. UU ini juga menjamin seorang siswa dalam mengembangkan pengetahuan, meningkatkan kreativitas, dan ekspresi belajar dalam menguasai pembelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Semenjak UU ini diluncurkan, banyak bermunculan kasus kekerasan dalam dunia pendidikan terkhusus dalam Proses belajar mengajar. Banyak ditemukan dalam kolom-kolom berita media cetak atau siaran berita televisi yang menceritakan kasus guru dengan murid. Hal yang baik adalah untuk mencegah hal serupah terjadi dilingkungan pendidikan atau sekolah lainnya. Namun, masih saja, berita sejenis bermunculuan di media.

Namun, tanpa disadari, UU seolah membawa tren negatif kedalam dunia pendidikan.Jika mau jujur, UU ini sepertinya memberikan kesan imunitas bagi siswa atau keluarga siswa yang merasa menjadi "korban". Setiap ada peristiwa guru dengan murid, maka pemberitaan selalu saja menjadikan guru sebagai "tersangka" kelas atas yang harus dijatuhkan hukuman berat. Sehingga, hal ini mau tidak mau,memberikan kesan baru bagi guru sebagai "penjahat" baru.

Contoh kasus, seorang guru memukul siswanya dengan sebuah buku dikelas, dan berujung pada pengadilan dengan tuntutan 10 bulan kurungan badan untuk si "guru". Dengan modal UUPA, guru tersebut dituntut untuk menerima hukuman tersebut padahal berdasarkan kronologinya si siswa telah berlaku tidak baik terhadap gurunya. Ada banyak kasus yang serupa dengan hal ini, dan ini memberikan tekanan tersendiri bagi guru-guru lain. Justru ini memberikan tren yang negatif dalam dunia pendidikan. Karena saat ini, semakin berkembangnya sifat apatis guru dalam memberikan pembelajaran. "Kalau kamu maju itu untuk dirimu, kalau kamu rusak juga untuk dirimu". Kesan ini yang memberikan arah yang semakin buruk dalam dunia pendidikan. karena guru disekolah, tidak hanya  sekedar memberikan materi pembelajaran tetapi juga ikut membangun karakter siswa.

Dalam dunia pendidikan, ada dua yang diperkenalkan dalam memberikan tanggapan atas ketidkaberhasilan siswa dalam pembelajaran, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Di dalam penguatan negatif, ada punishment (hukuman). Namun saat ini, guru hanya lebih cenderung menyampaikan pembelajaran tanpa peduli dengan sikap anak. Sikap yang muncul inilah yang membawa pendidikan kearah negatf.

Memang benar, tidak ada seorangpun yang mengingini tindakan kekerasan dalam kehidupan. Namun perlu pertimbangan yang lebih mendalam dalam mengambil keputusan. Termasuk juga kepada orang tua, dalam pengembangan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru tetapi terutama adalah keluarga. Untuk itu saran bagi orang tua, mari kita pupuk nilai luhur pada anak, agar berkarakter mulia dalam perilaku sehari-hari baik disekolah atau di luar sekolah untuk menghidari terjadi kesalah pahaman dalam pembinaan dari pada menghukum guru yang merasa kesabarannya dalam membina seperti dipermainkan.

Tulisan ini telah dipublikasikan di kompasiana.com pada 01 Oktober 2015

GENERASI 2045 GENERASI EMAS, MIMPI?


Ada sebuah harapan dan tujuan dalam tahun 2045. Ya, tepat 30 tahun lagi dari sekarang, Bangsa ini akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-100. Indonesia diharapkan memiliki generasi mengkilap dan pemimpin yang luar biasa untuk membawa Indonesia menjadi Negara yang berpengaruh di jagad raya ini.

Waktu yang tidak terlalu lama lagi tentunya untuk sebuah bangsa berbenah ke sana. Mungkin banyak diantara penduduk Indonesia yang masih sempat untuk menikmatinya. Di sana kita akan melihat Pemimpin besar yang berdiri di podium internasional berteriak dengan lantang seraya mengangkat tangan yang terkepal menyerukan kedigdayaan. Bisa dibayangkan, Pembangunan merata diseluruh pelosok negeri. Infrastruktur yang jauh lebih beradab. Demokrasi yang lebih santun dan Pancasila yang melekat dengan jiwa.

Namun, kekuatiran ini pun muncul seiring dengan ada terbersit pertanyaan dalam pikiran, "Siapa mereka yang akan berada di generasi emas tersebut?" Saya pun coba-coba menghitung, karier terbaik manusia dimulai usia 25 tahun sampai dengan 55 tahun (saya rumuskan dari penetapan pemerintah untuk usia pensiun PNS). Jika dikaitkan dengan usia tersebut, maka generasi 2045 adalah orang-orang yang lahir dari tahun 1995-2020.

Kekuatiran ini semakin menajam seiring pemahaman atas "Pendidikan penentu masa depan bangsa". Negara yang maju pastilah ditentukan oleh majunya pendidikan. Tidak ada satupun yang dapat membantah ini. Pertanyaan berkembang menambah kekuatiran ini, "Apa yang terjadi dengan dunia pendidikan?".

Saya mencoba meyakinkan diri, kembali meluruskan harapan dengan percaya diri, Sambutlah Indonesia Baru. Sambil mendengar, melihat, dan merasakan perjalanan pendidikan di negara ini. Untuk mencapai generasi emas, berbagai langkah strategis dilakukan dalam dunia pendidikan untuk penerima pendidikan dan pengantar pendidikan.

Untuk hal ini, pemerintah meyakinkan pendidikan berkualitas dengan memperhatikan kesejahteraan guru. Keprofesionalan seorang pendidik harus diasah dan kesejahteraan mengiringinya. Ribuan bahkan jutaan pendidik diharuskan memilki pendidikan akhir serendah-rendahnya strata satu. Berhasil! Dalam waktu "singkat", banyak tenaga pendidik yang memiliki gelar dibelakang namanya. Ini masih dirasa kurang cukup, guru perlu dilatih untuk menjadi profesional dengan banyak persyaratan yang justru tidak menunjukkan keprofesionalan. Kali ini juga berhasil. Banyak kini guru yang dinyatakan profesional.

Lalu bagaimana dengan si penerima pendidikan yang kelak akan menjadi generasi emas tersebut? Kembali untuk mencapainya, dipilih jalur penyetaraan pendidikan dengan cara penyetaraan kriteria kelulusan untuk semua sekolah dimanapun sekolah itu berada. Ya, Ujian Nasional diharapkan membentuk manusia Indonesia yang memiliki kemampuan sama dengan orang-orang yang berada di negara-negara maju. Hasilnya, Luar Biasa. Banyak sekolah yang memiliki lulusan dengan nilai yang fantastik jika diukur dengan delapan standar nasional pendidikan.

Lebih rinci lagi kita sorot, apakah Ujian Nasional telah mencapai fungsinya sebagai alat standard pendidikan untuk bisa bersaing dengan dunia internasional? Ujian Nasional telah berlangsung 10 tahun sebagai salah satu penentu kelulusan, dan sialnya lagi, sering diartikan satu-satunya kriteria kelulusan peserta didik dari jenjang yang dijalaninya. Jika sudah lulus Ujian Nasional, apapun itu yang lain, mungkin absen yang tidak wajar, atau etika yang kurang, dianggap nol dalam penentu kelulusan.

Selama 10 tahun kita bisa lihat betapa banyak pelanggaran yang terjadi terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Bagai fenomena gunung es, pelanggaran yang tampak hanyalah sebagian kecil dari pelanggaran yang terjadi disepanjang pelosok negeri. Bukan hanya dari pihak yang ingin lulus, bahkan dari pelaksana tugas "mulia" juga ikut-ikutan masuk dalam makna terselubung.

Bahkan ketika kebijakan ini telah dirubah di tahun ini, karena alasan banyak kecurangan yang terjadi sepanjang pelaksanaan UN sebagai kriteria kelulusan, ternyata sampai hari ini kecurangan itu juga masih terjadi. Sekali lagi, bagai fenomena gunung es, yang terkabar tidak sebanyak yang terjadi.

Hitung-hitunganpun akan segera berakhir, mungkin bertahun-tahun, kita akan menemukan 1 atau bahkan sampai 100 orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa, akan tetapi yang ditakutkan, kita akan menemukan rata-rata kemampuan yang terburuk yang pernah Indonesia miliki dalam satu generasi. Ini bangsa dan bukan arisan, SDM yang merata akan menjadikan kemajuan Indonesia yang luar biasa jika dibandingkan beberapa orang yang memiliki SDM diatas rata-rata yang tenggelam didalam lautan SDM dibawah rata-rata.

Jadi, kekuatiran ini benar-benar menemukan jalannya untuk mewujudkannya. Generasi 2045 Generasi Emas, apakah sebuah tujuan dan harapan atau hanya sekedar mimpi? Semoga kekuatiran ini hanya menemukan jalannya yang buntu.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Kompasiana.com pada 05 Mei 2015

MENINGKATKAN KEMAMPUAN OTAK


Sebagian besar ahli mengatakan kemampuan otak digambarkan oleh kemampuan intelegensi. Kemampuan ini merupakan modal dasar yang dimiliki seseorang untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Modal ini yang kemudian dipercaya berkembang untuk mendatangkan keberhasilan. Atau dengan kata lain, semakin besar intelegensi seseorang, maka kemampuannya bekermbang juga semakin baik.

Berikut ini merupakan kategori kemampuan intelegensi berdasarkan hasil pengukuran IQ dengan menggunakan tes.

Ada berbagai banyak cara untuk mengukur kemampuan otak. Di kemajuan teknologi saat ini, banyak penyedia jasa untuk mengukur kemampuan itelejensi secara online, dan juga tersedia tes pada buku-buku yang banyak dijual di toko buku. Kesemuanya ini hanya sekedar untuk mengukur kemampuan otak.
Kemampuan intelegensi bukanlah sebuah bakat yang tidak dapat berubah. Seiring pengalaman hidupnya, maka intelegensi dapat berkembang. Bahkan kemampuan intelegensi dapat dikembangkan dengan pola hidup yang teratur.
Ada 5 (lima) cara untuk meningkatkan kemampuan intelegensi (sumber: Quick IQ Tes), yaitu:
  1. Menguji kecerdasan Anda dengan banyak tes IQ yang Anda bisa walau perlahan-lahan, namun secara bertahap meningkat ketika Anda melatih bagian-bagian tertentu dari otak Anda.
  2. Untuk memanfaatkan potensi maksimum dari otak, adalah penting untuk menjamin pasokan darah yang cukup oksigen dan nutrisi ke otak. Hal ini diketahui bahwa hampir setiap latihan aerobik 20 menit secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir dan memori. Ini merangsang produksi hormon pertumbuhan yang diperlukan untuk memulihkan sel-sel saraf. Selain itu, mempromosikan pembentukan neurotransmitter untuk memori yang lebih baik, dan juga untuk mengurangi stres.
  3. Merangsang efektifitas otak, dengan latihan pernapasan. Perlahan-lahan tarik napas sambil menghitung sampai 1-88, kemudian tahan napas selama 12 hitungan dan akhirnya menghembuskan napas perlahan sambil menghitung sampai 1-10.
  4. Jika Anda memiliki pekerjaan tetap, selalu pastikan bahwa punggung Anda lurus seperti itu secara signifikan akan meningkatkan suplai darah ke otak Anda. Juga, pastikan bahwa Anda berdiri untuk sementara waktu. Sudah terbukti secara ilmiah bahwa posisi berdiri meningkatkan kemampuan untuk belajar dan berpikir hingga 30 %.
  5. Pastikan bahwa Anda makan makanan sehat dan bergizi. Saran ini sering sangat diremehkan, tetapi ada penelitian yang menunjukkan bahwa hal itu dapat membantu meningkatkan IQ sebesar 10 poin atau bahkan lebih.
Pada akhirnya, hasil hanyalah sebuah hasil. Setelah memperoleh hasil kembali kepada si pemilik intelegensi untuk mengembangkannya. Memiliki hasil yang baik, juga tidaklah serta merta menjadikan Anda berhasil, kembali kepada niat dan motiasi.

Tulisan pernah dipublish pada Kompasiana.com 29 Maret 2014